Header Priangan

Perbedaan Pilihan Pilkada Bisa Cerai

Thursday, 11 Aug 2011 | 02:10:15 WIB

Terkait

PERCERAIAN di Indonesia banyak terjadi karena hal yang sepele. Lebih ironisnya lagi kejadian yang menyakitkan itu, menimpa pasangan perkawinan usia muda.
”Bahkan, hanya karena pemilukada dan perbedaan pilihan bisa terjadi perceraian,” kata Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Nasaruddin Umar di Jakarta, Rabu, saat jumpa pers terkait pelaksanaan Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan dan Pemilihan KUA Teladan Tingkat Nasional 2011 yang berlangsung pada 13-19 Agustus di Jakarta.
Pada kesempatan itu hadir para juri pemilihan keluarga sakinah, antara lain Prof. H. Mubarok MA, Prof. Dr. H. Dadang Hawari SpKj, Dr. Hj. Nurhayati Djamas MA, Hj. Ratih Sanggarwati, SE.
Acara dipandu Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Drs. H. Ahmad Jauhari, M.Si.
Jika setiap tahun 200.000 perceraian dari dua juta perkawinan, menurut Dirjen Bimas Islam itu, tentu akan memunculkan persoalan di tengah masyarakat. Antara lain, anak telantar dan para janda yang dapat memunculkan konfil horisontal di tengah masyarakat.
Ia tidak menjelaskan bentuk konflik yang dimaksud. Namun, yang jelas jika saja dari setiap perceraian ada seorang anak tak bersama kedua orang tua, sehingga terbuka adanya sejumlah anak telantar. Paling tidak, katanya, anak tersebut kehilangan pengasuh.
”Lebih ironis, 80 persen perceraian terjadi pada pasangan perkawinan muda,” katanya.
Nasaruddin Umar mengakui, penyebab perceraian tersebut banyak faktornya. Antara lain poligami, kawin paksa, pernikahan di bawah umur, dan kekerasan dalam rumah tangga, menjadi tenaga kerja di luar negeri, serta akibat salah satu pasangan cacat.
Pengaruh tayangan televisi, juga bisa memicu perceraian karena ”kawin-cerai”. Artis yang sering diberitakan juga dapat mendorong pasangan usia muda untuk mudah bercerai hanya persoalan sepele.
Menyisakan persoalan
Sebetulnya, menurut psikiater Dadang Hawari, perkawinan merupakan hal penting. Pasalnya, hidup berpasangan tanpa nikah — seperti yang terjadi di Barat — banyak menyisakan persoalan bagi anak mereka ke depan.
Namun, pengaruh globalisasi yang kini makin kuat menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga perkawinan ke depan. Untuk itu, mempertahankan lembaga perkawinan menjadi bagian penting di negeri ini.
Keluarga sakinah
Pada kesempatan itu Nasaruddin Umar, menyebutkan pentingnya Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan dan Pemilihan KUA Teladan. Pemilihan ini merupakan suatu bentuk penghargaan pemerintah kepada keluarga yang telah konsisten mempertahankan nilai-nilai luhur dalam keluarga dan memberikan teladan kepada lingkungan masyaakat, serta KUA yang telah memberikan layanan prima kepada masyarakat dengan menerapkan ”clean government and good governance”.
Nasaruddin Umar menyatakan, perceraian sebagai salah satu masalah sosial yang tak lepas dari pengaruh pergeseran norma dan cara pandang masyarakat terhadap institusi perkawinan.
Oleh karena itu, menurut dia, figur keluarga sakinah ini perlu diangkat untuk memberikan keteladanan kepada masyarakat yang tanpa sadar telah menjadi konsumen fenomena komodifikasi yang tidak proporsional seputar permasalahan rumah tangga, figur publik melalui media massa. (Ant)***

Dibaca : 299 kali
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.