Header Priangan

Semua Harus Terima Putusan MK

Tuesday, 22 Nov 2011 | 10:16:34 WIB

SERANG, (KB).-
Semua pihak harus menerima apapun keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepada daerah (PHPU) Banten. Pasalnya, proses hukum MK merupakan jalur konstitusional dalam mekanisme sengketa pemilukada.
Demikian disampaikan pengamat politik Untirta, Idi Dimyati saat dimintai pendapatnya, terkait akan dikeluarkannya putusan PHPU No. 114, 115, dan 116 Pemilukada Banten, Selasa (22/11).
Sesuai jadwal MK, putusan akan dibacakan pada pukul 16.00 WIB. "Saya kira, ini jalur konstitusional dalam penyelesaian sengketa pemilukada. Oleh karena itu, putusan apapun yang dikeluarkan MK, semua pihak harus menerima. Suka atau tidak suka tanpa terkecuali," kata Idi.
Ia menjelaskan, menerima dan mendukung keputusan MK merupakan sikap terbaik. Sikap ini menjadi pembuktian masyarakat Banten demokratis yang taat asas dan konstitusional.
Apalagi, selama ini reputasi dan integritas MK masih cukup baik. Ia menyatakan, tidak ada cara lain lagi dalam tata aturan sengketa pemilukada setelah putusan MK.
Ketua Pokja Sengketa Hukum KPU Banten, Agus Supriyatna menyatakan, seluruh komisioner KPU Banten beserta kuasa hukumnya akan menghadiri langsung pembacaan putusan MK tersebut. "Saya tidak mau berandai-andai. Kami menunggu saja keputusan MK. Apapun hasilnya, KPU Banten akan menerima," kata Agus di kantor KPU Banten, Senin (21/11).
Ia menyatakan, berdasarkan UU No. 22/2008, MK merupakan lembaga yang menyelesaikan perkara sengketa pemilukada. "Putusan MK final dan mengikat," ujarnya.
Optimistis ditolak
Sementara itu, menjelang pembacaan putusan MK, Juru Bicara Atut-Rano, Iwan Kusuma Hamdan optimistis MK akan menolak gugatan pemohon PHPU No. 114,115, dan 116 berdasarkan alat bukti, saksi-saksi, dan fakta yang diungkapkan.
Selain itu, katanya, MK akan mempertimbangkan aspek selisih suara antara pasangan nomor satu dengan noomor dua yang mencapai 461.000.
"Mari kita legawa dan terbuka hati karena proses demokrasi Pilgub Banten sangat demokratis dan fair. Rakyat Banten telah memilih. Oleh karena itu, mari hargai pilihan rakyat tersebut," kata Iwan.
Optimistis dikabulkan
Berbeda dengan Iwan, seorang Tim Pemenangan WH-Irna, Iti Oktavia Jayabaya mengaku, optimistis gugatannya dikabulkan MK. "Yakin dong. Kami sudah lihat hasilnya semua dalil terbukti yakni adanya pelanggaran terstruktur, masif dan pilitik uang terbukti di persidangan," katanya.
Menurut dia, beberapa yurisprudensi MK, pelangaran-pelanggaran yang menjadi pertimbangan MK adalah pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan masif.
"Di persidangan sudah kami buktikan dengan video dan bukti-bukti foto, apakah pelanggaran itu dilakukan selaku penyelenggara dan saksi-saksi yang diajukan telah menguatkan dalil kami," ujarnya.
Dari proses persidangan, dia berkeyakinan, MK akan membatalkan keputusan KPU Banten. Atas dasar itu, dia optimistis keputusan MK adil.
Ketika ditanyakan apakah akan menerima jika tuntutan tidak dikabulkan, dia meyakini, keputusan MK akan objektif.
Menerima
Secara terpisah, Koordinator Humas Tim Pemenangan Pasangan Jazuli-Zakki, M Arif Kirdiat menyatakan, pihaknya akan menerima apapun keputusan yang dikeluarkan MK. "Keputusan MK kan final. Kami bismillah saja, mudah-mudahan putusan MK merupakan hasil terbaik. Kami akan terima apapun keputusannya. Semua pihak juga harus menerima," kata Arif.
Namun demikian, dia mengungkapkan, berdasarkan fakta persidangan, indikasi akan dilakukan pemungutan suara ulang (PSU) menguat.
Ia menyatakan, dalam fakta persidangan, saksi bukan hanya dari pemohon tetapi juga Panwaslu dan Bawaslu menguatkan akan terjadinya PSU. "Tuntutan kami memang diskualifikasi dan PSU," katanya. (H-32/H-40/H-37)***

Dibaca : 300 kali
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.